Agus, Agus (2017) Menakar kekuatan simbol agama dalam kontestasi politik agama. Tasamuh, 14 (2). pp. 199-124. ISSN 2614-1736

[img] Text (Artikel Jurnal)
MENAKARKEKUATAN SIMBOL AGAMA DALAM KONTESTASI POLITIK LOKAL.pdf - Published Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (994kB)

Abstract

INDONESIA Pemilihan gubernur, bupati, wali kota langsung oleh rakyat, selanjutnya dikenal dengan pilkada langsung, telah diselenggarakan sejak tahun 2005. Hingga saat ini, fenomena pemilihan memperlihatkan beragam keunikan politik di daerah. Kemajemukan Indonesia, memberi warna-warni rupa pilkada. NTB sebagai daerah dengan mayoritas Muslim, menjadi lahan subur kebangkitan simbol agama di panggung politik. Pada pemilihan tahun 2008, pengguna simbol agama adalah TGH. M. Zaenul Madjdi, berpasangan dengan Ir. H. Badrul Munir, MM. Mereka memenangkan pemilihan dengan 38,85% suara sah. Demikian halnya pada pemilihan tahun 2013, dua pengguna simbol agama, TGH. Zaenul Madjdi dan Dr. KH. Zulkifli Muhadli menjadi peroleh suara terbanyak pertama dan kedua. TGH. Zaenul Madjdi yang berpasangan dengan H. Muh. Amin memperoleh 44,36%. Sedangkan Dr. KH. Zulkifli Muhadli berpasangan dengan Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ichsan memperoleh 26,51%. Melalui perspektif interaksionisme simbolik, yang diperkenalkan oleh George H. Mead, ditemukan empat tahapan tindakan pemilih, yakni impuls, persepsi, manipulasi, dan konsumsi. Dari tiga tahapan ini, nampaknya penggunaan simbol agama dalam pilkada langsung mampu mempercepat pilihan pemilih pada kandidat, sebelum pemilih sampai di TPS. ENGLISH The election of governors, regents, mayors directly by the people, then known as direct elections, has been held since 2005. Until now, the phenomenon of elections shows a variety of political uniqueness in the region. Plurality of Indonesia is the nature of election elections. NTB as an area with a Muslim majority became a fertile ground of religious symbol awakening on the political stage. In the 2008 election, the religious symbol user was TGH. M. Zaenul Madjdi, paired with Ir. H. Badrul Munir, MM. They won the election with 38.85% of the valid votes. Similarly, in the 2013 election, two users of religious symbols; TGH. Zaenul Madjdi and Dr. KH. Zulkifli Muhadli became the first and second most votes. TGH. Zaenul Madjdi who is paired with H. Muh. Amin obtained 44.36%. While Dr. KH. Zulkifli Muhadli paired with Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Ichsan earned 26.51%. From the perspective of symbolic interactionism, introduced by George H. Mead, found four stages of voter action, namely impulse, perception, manipulation, and consumption. From these three stages, it seems that the use of religious symbols in direct elections is able to accelerate voter choice on candidates, before voters reach the polling stations

Item Type: Article
Uncontrolled Keywords: simbol; agama; politik; kekuasaan; interaksionisme simbolik
Subjects: 16 STUDIES IN HUMAN SOCIETY > 1606 Political Science > 160605 Environmental Politics
16 STUDIES IN HUMAN SOCIETY > 1606 Political Science > 160608 Indonesian Government and Politics
22 PHILOSOPHY AND RELIGIOUS STUDIES > 2204 Religion and Religious Studies > 220403 Islamic Studies
Divisions: Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama > Jurusan Pemikiran Politik Islam
Depositing User: Syahrul Gunawan Adita, S.E
Date Deposited: 09 Apr 2022 12:44
Last Modified: 09 Apr 2022 12:44
URI: http://repository.uinmataram.ac.id/id/eprint/1163

Actions (login required)

View Item View Item