Khaldun, Rendra (2015) Integrasi agama dan sains dalam persfektif tasawuf dan kebudayaan. Tasamuh, 12 (2). pp. 159-177. ISSN 1829-6483 (Print) and 2614-1736 (Online)

[img] Text (Artikel Jurnal)
INTEGRASI AGAMA DAN SAINS DALAM PERSFEKTIF TASAWUF DAN KEBUDAYAAN.pdf - Published Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (266kB)

Abstract

INDONESIA Integrasi tasawuf dan kebudayaan dalam hubungannya akan memperlihatkan hal yang sama. Sama dalam arti karena kebudayaan adalah realitas, yang sudah diciptakan, dihasilkan, terbentuk dan dilembagakan. Sedangkan dalam konteks sosial, budaya merupakan suatu produk kemanusiaan yang sedang berjalan. Kebudayaan itu terbentuk oleh sebuah kelompok yang dilakukan berulang-ulang dan diakui oleh masayarakat. Sehingga dalam kenyataannya agama selalu identik dengan tradisi, karena kebudayaan merupakan ekspresi yang diyakini orang terhadap suatu yang suci. Jika hubungan agama dan tradisi ditempatkan sebagai wujud interpretasi sejarah dan kebudayaan, maka semua domain agama adalah kreatifitas manusia yang sifatnya relatif. Artinya, kebenaran agama yang diyakini setiap orang sebagai suatu yang “benar”, pada dasarnya itu hanya sebatas yang bisa ditafsirkan dan diekspresikan oleh manusia yang relatif atas “kebenaran”, Tuhan yang absolut. Dengan demikian, apapun bentuk yang dilakukan oleh manusia untuk mempertahankan, memperbaharui dan memurnikan tradisi agama, tetap saja harus dipandang sebagai fenomena manusia atas sejarahnya, tanpa harus dilihat yang satu berhak menegasikan “kebenaran” yang diklaim oleh orang lain, sambil menyatakan bahwa “kebenaran” yang dimilikinya sebagai yang “paling benar. ENGLISH Mysticism and culture integration in its relation will show the same thing because culture is reality which has been created, produced, formed, and institutionalized. While in social context, culture is human product which is running continually. Culture is formed by a group which is done continually and admitted by society. So in reality religion is always identical with tradition because culture is expression which is believed by people toward holy thing. If the connection between religion and tradition are placed as interpretational form of history and culture, all religious domains are human creativities which are characteristically relative. It means that religious truth which is believed by each person is as something “true”. Basically, it can only be interpreted and expressed by relative human for “the truth”, God is an absolute one. Then anything is done by human to defend, renew, and purify religious tradition; it should be seen as human phenomena for history without saying that the one is the truest one.

Item Type: Article
Uncontrolled Keywords: integrasi; agama; sains; tasawuf; kebudayaan
Subjects: 20 LANGUAGE, COMMUNICATION AND CULTURE > 2002 Cultural Studies > 200204 Cultural Theory
20 LANGUAGE, COMMUNICATION AND CULTURE > 2002 Cultural Studies > 200209 Multicultural, Intercultural and Cross-cultural Studies
22 PHILOSOPHY AND RELIGIOUS STUDIES > 2204 Religion and Religious Studies > 220403 Islamic Studies > 22040305 Akhlaq, Tasawuf, and related science
Divisions: Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi > Jurusan Bimbingan Konseling Islam
Depositing User: Syahrul Gunawan Adita, S.E
Date Deposited: 10 Apr 2022 12:26
Last Modified: 10 Apr 2022 12:26
URI: http://repository.uinmataram.ac.id/id/eprint/1174

Actions (login required)

View Item View Item