Musawar, Musawar (2018) Analisis fiqh fiqh kotemporer terhadap “Nyandak” masyarakat Sasak. Schemata: Jurnal Pascasarjana UIN Mataram, 7 (1). pp. 1-24. ISSN p-ISSN: 2337-3741 | e-ISSN: 2579-5287
![]() |
Text (Artikel Jurnal)
ANALISIS FIQH FIQH KOTEMPORERTERHADAP “NYANDAK” MASYARAKAT SASAK.pdf - Published Version Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives. Download (510kB) |
Abstract
INDONESIA Artikel ini membahas tentang “Sandak” yaitu salah satu bentuk muamalah yang lazim dikenal di kalangan masyarakat Sasak. Sandak merupakan bentuk transaksi yang bernilai ekonomis komersial dalam upaya pemanfaatan lahan pertanian. Tidak ada padanan istilah yang fixed bagi Sandak dalam disiplin ilmu fiqh. Ada yang menyebutnya sebagai “pinjam uang pinjam tanah”, “jual beli sementara”, dan bahkan ada yang menyebutnya sebagai bentuk lain dari gadai.Sebenarnya tradisi Sandak bisa diklasifikasikan sebagai salah satu modus operandi praktek muamalah pada umunya, seperti jual beli, sewa-menyewa, pinjam meminjam, muzarah dan lain sebagainya. Namun, bila praktek sandak tersebut dibedah secara detail dengan teori al-Rahn (gadai), al-Qardh (pinjam meminjam), dan al-Riba dalam perspektf madzhab fiqh, maka akan ditemukan unsur-unsur yang kontroversial dan dilarang. Padahal muslim Sasak secara mayoritas adalah penganut setia madzhab Syafi’i. Di sinilah menariknya masalah ini untuk dikaji. Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa masyarakat Sasak telah secara sadar atau tidak mengadopsi sistem bermadzhab secara eklektif (takhayyur). Mereka lebih memilih berlindung di balik pandangan madzhab Hanafi yang dirasa lebih akomodatif terhadap praktek Sandak. Dalam hal ini, ada dua model transaksi untuk melegalkan praktek sandak. Pertama, masyarakat mengambil opsi transaksi “permohonan izin dalam penggarapan sawah” sebagai bentuk aqad sandak yang diakui oleh mazhab Hanafi. Sementara cara yang lain adalah apa yang disebut dengan “Ba’y al-Wafa’” yaitu satu bentuk transaksi dalam rangka memenuhi hajat, dengan alasan “al-hajat tanzîl manzila al-dlarura ‘âmmah wa khâshshah”. ENGLISH This article aims to discuss “Sandak”as a kind of economic practice among the Sasakness people. The term Sandak is a form of transaction, having commercial and economic value within the Sasakness community especially in the area of farming. There is no exact equivalent for the term Sandak in Islamic Law (fiqh). But it is known as "pinjam uang pinjam sawah" or "jual beli sementara" and it is assumed as a part of mortgage.Commonly, Sandak in the tradition of Sasakness community is a part of contract, like a selling, renting, loan and etc. When Sandak is investigated carefully thorough Islamic Law theory, al-Rahn (mortgage), al-Qardl (loan) and al-Riba (usury) in the perspective Islamic scholars, it is found that some aspects are debatable and forbidden, whereas the majority of Sasakness community believe in Syafi'i ideas. This point becomes interesting to study. On the other hand, the majority of Sasakness community, known or unknown, have followed Hanafis scholars. They prefer to choose Hanafis scholars that are believed to be accommodative to legalize the Sandak practice. Regarding this view, the Sandak is usually practiced with two models: the first, Sandak is practiced with permission to use the rice field or garden as contract that claimed by Hanafis ideas. The second is the "Ba'y al-Wafa' concept to fulfill the needs of them with this argumentation “al-hajat tanzîl manzila al-dlarura ‘âmmah wa khâshshah”
Actions (login required)
![]() |
View Item |