Fahrurrozi, Fahrurrozi (2015) Ritual haji masyarakat sasak lombok: ranah sosiologis-antropologis. IBDA': Jurnal Kajian Islam dan Budaya, 13 (2). pp. 244-265. ISSN (online): 2477-5517

[img] Text (Artikel Jurnal)
Ritual haji masyarakat sasak lombok.pdf - Published Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (160kB)

Abstract

INDONESIA Falsafah Ka‘bah no arak lek dalam ate (Ka‘bah ada dalam hati: Sasak) menampilkan peralihan tradisi dan budaya masyarakat Sasak dari tradisi dan budaya yang menyimbolkan diri dengan kebesaran Rinjani dengan simbol Ka‘bah sebagai puncak dari kesucian dan kebersihan jiwa. Peralihan ini menjadi penanda bahwa Ka‘bah dengan hajinya menjadi sebuah upacara puncak yang menghubungkan manusia dengan Tuhannya, baik pada tataran keagamaan ataupun kebudayaan. Simbolisasi Ka‘bah pada falsafah hidup dan kebudayaan masyarakat Sasak yang lahir dari spiritualisasi ibadah haji pada wilayah sosio kultural dan politik lokal masyarakat Sasak, merupakan hasil nyata dari akulturasi antara Islam sebagai tradisi besar dengan budaya ke-Sasak-an sebagai sebuah tradisi kecil. Melalui simbolisasi ini juga, tradisi ziarah batin masyarakat Sasak bukan sekadar terefleksi secara keagamaan semata, namun ia terefleksi pada norma-norma dan adat istiadat yang menjadi sandaran kebudayaan masyarakat Sasak. Oleh masyarakat Sasak, hal tersebut dirumuskan dalam kata “adat”, dan “tata krame”. Tipa’ Ka‘bah sebagai sebuah filosofi keagamaan yang bersumber dari Islam melahirkan pemaknaan haji sebagai ibadah yang tidak terputus dengan menunaikan ibadah haji di Mekah. Bagi masyarakat Sasak, sebelum seseorang menunaikan ibadah haji, mereka harus melatih hatinya dengan perbuatan yang baik, terpuji dan sikap ikhlas. Begitupun setelah seseorang pulang dari menunaikan ibadah haji, seseorang mesti menjaga hatinya dengan terus-menerus memanifestasikan perbuatan-perbuatan tersebut dalam wilayah sosial. Oleh orang Sasak, proses pensucian diri melalui ibadah dan pemaknaannya dalam kehidupan sehari-hari inilah yang dikenal dengan ritual “behaji”. ENGLISH Philosophy of Ka‘bah no arak lek dalam ate represents a shift in tradition and culture among Sasak people from tradition which is symbolized itself with Rinjani mountain to Ka’bah symbol of purification and soul purification. This shift made hajj and Ka’bah become the top ceremony which connect man and Allah, in religious and culture level. The Ka’bah symbolic in life philosophy and Sasak culture which is come from hajj perform spiritualisation in sociocultural and local political Sasak community. Through this symbolisation, their tradition is not only refelected religiously but also reflected in the norms and custom which becomes culture base of Sasak people. By the people, those things is formulated into “adat”, and”tata krame”. Tipa’ Ka‘bah as a religious philosophy is based on Islam and explain hajj as a continuous ritual by perform hajj in Mekah. For Sasak community, before someone performs hajj, they have to train their heart in good deeds. After the finish the hajj, they also have to keep their heart by manifested it through social activities. Sasak people calls the ritual as “behaji”.

Item Type: Article
Uncontrolled Keywords: Sasak; haji; ritual; selakaran
Subjects: 16 STUDIES IN HUMAN SOCIETY > 1601 Anthropology > 160199 Anthropology not elsewhere classified
16 STUDIES IN HUMAN SOCIETY > 1699 Other Studies in Human Society > 169902 Studies of Sasak, Samawa, and Mbojo Society
Divisions: Program Pascasarjana > Program Studi Magister Komunikasi Penyiaran Islam
Depositing User: Prof. Dr. Fahrurrozi M.A.
Date Deposited: 07 Dec 2022 02:52
Last Modified: 07 Dec 2022 02:52
URI: http://repository.uinmataram.ac.id/id/eprint/2027

Actions (login required)

View Item View Item