Wardatun, Atun (2018) Legitimasi berlapis dan negosiasi dinamis pada pembayaran perkawinan perspektif pluralisme hukum. Al-AHKAM, 28 (2). pp. 147-166. ISSN p-ISSN: 0854-4603 e-ISSN: 2502-3209

[img] Text (Artikel Jurnal)
Artikel.pdf - Published Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (201kB)
[img] Text (Peer Review)
Peer Review legitimasi berlapis.pdf - Supplemental Material
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (490kB)

Abstract

INDONESIA Artikel ini berdasarkan penelitian etnografi dengan metode observasi partisipatif terhadap delapan negosiasi pembayaran perkawinan di Kota Mataram NTB. Argumen yang disampaikan adalah pembayaran pernikahan dalam tradisi Muslim Sasak di Kota Mataram NTB dilandasi oleh strong legal pluralism atau beragamnya hukum yang samasama kuat, tidak ada satu sistem hukum yang mendominasi dan tersubordinasi satu sama lain. Bahkan pluralisme hukum bisa mencakup dialog antara sistem hukum yang sama misalnya antara hukum adat yang berbeda. Model pluralisme hukum yang kuat tersebut terlihat pada dua hal. Pertama, legitimasi berlapis bagi perkawinan masyarakat Sasak dengan menggunakan banyak model pembayaran perkawinan yaitu pembayaran agama dalam bentuk mahar untuk sahnya pernikahan, adat dalam bentuk pisuke dan ajikrama untuk kepatutan sosial, dan negara dalam bentuk biaya administrasi untuk legalitas formal. Kedua, negosiasi yang dinamis antara pemegang hukum adat terkait pembayaran pernikahan ketika terjadi perkawinan antar suku (eksogami), di mana tradisi yang berbeda bisa menyerap satu sama lain. Argumen tersebut sekaligus mendebat pandangan selama ini yang meletakkan ketiga sistem hukum: Islam, adat, dan negara sebagai saling berlawanan dan mensubordinasi satu sama lain. ENGLISH This article is based on an ethnographic study that uses participatory observation of eight marriage payment negotiations in the city of Mataram, West Nustaenggara. It argues that the marriage payment in the Muslim tradition of Sasak in the city of Mataram is based on strong legal pluralism or a variety of equally strong laws in which no single legal system dominates and is subordinated to each other. Furthermore, this research sheds light on extending meaning of legal pluralism in which it may include dialogue between the same legal system eg between different customary laws. This strong model of legal pluralism is seen in two ways. First, the layered legitimacy of Sasak marriage by using many models of marriage payments, namely religious payment in the form of mahr for marriage validity, local payment in the form of pisuke and ajikrama for social appropriateness, and state payment in the form of administrative costs for formal legality. Second, the dynamic negotiation between customary law holders concerning the marriage payment when inter-ethnicity marriage occurs (exogamy), where different traditions can absorb each other. The argument at the same time debates the view that has placed the three legal systems: Islam, adat (customs), and the state as opposed and subordinate to each other

Item Type: Article
Uncontrolled Keywords: pluralisme hukum; pembayaran perkawinan; adat; mahar; legitimasi
Subjects: 16 STUDIES IN HUMAN SOCIETY > 1699 Other Studies in Human Society > 169901 Gender Specific Studies
18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1801 Law > 180128 Islamic Family Law > 18012801 Pernikahan (Secara Umum)
18 LAW AND LEGAL STUDIES > 1801 Law > 180128 Islamic Family Law > 18012804 Mahr (Dowry)
Divisions: Fakultas Syariah > Jurusan Hukum Keluarga Islam
Depositing User: mrs Nuraeni S.IPi
Date Deposited: 16 Feb 2021 04:37
Last Modified: 16 Feb 2021 04:37
URI: http://repository.uinmataram.ac.id/id/eprint/313

Actions (login required)

View Item View Item