Analisis sosiologi terhadap petani penggarap dalam bertani di Kota Mataram

Mansyur, Zainudin (2019) Analisis sosiologi terhadap petani penggarap dalam bertani di Kota Mataram. In: HORIZON ILMU: Titik Temu Integratif dalam Tridarma. Pustaka Lombok, Lombok, pp. 149-173. ISBN 978-602-5423-11-6

[img]
Preview
Text (Buku)
605.pdf - Published Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (454kB) | Preview

Abstract

INDONESIA:

Perbedaan status dalam mata pencaharian bertani menjadi wujud adanya persaingan dan pelapisan sosial dalam masyarakat petani. Dalam hal ini dijelaskan bahwa petani secara garis besarnya dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu petani penggarap, petani sedang, dan petani kuat. Sistem bertani dengan menggarap lahan milik orang lain kemudian seluruh hasilnya dapat dibagi sama maka sistem ini dalam masyarakat Jawa disebut sebagai sistem maro. Di Pulau Lombok dan daerah Bali acapkali disebut dengan sistem sakap-menyakap, nandu, nelon, nyapit atau merepat.
NTB sebagai daerah yang menghasilkan beras terbanyak di seluruh Nusantara menunjukkan bahwa daerah ini memiliki mayoritas masyarakat pencaharian bertani walaupun sistem produksi hasil pertanian berbeda di seluruh Kabupaten dan Kota.182 Di daerah Kota Mataram masih banyak ditemukan masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari sistem pencaharian bertani walaupun daerah ini sebagai pusat ibukota daerah NTB. Status mereka berbeda ada petani kuat dan ada juga kuli kenceng (penggarap). Para petani yang mengandalkan kemampuan serta kecakapan dalam bertani di Kota Mataram dapat dikatakan mayoritas dan kebanyakan Islam sebagai agama mereka serta sebagian besar penganut mazhab Syafi`i. Dengan demikian, sudah menjadi keharusan bagi mereka untuk menerapkan nilai-nilai agama dalam seluruh aktivitasnya sebagai komitmen mereka dalam beragama. Apalagi masyarakat Kota Mataram mempunyai motto “Mataram Maju dan Religius” sebagai doktrin pendukung dalam menentukan sikap dan tindakan. Akan tetapi, dalam menggarap lahan pertanian para petani penggarap yang bermukim di Kota Mataram biasanya mereka menggunakan akad perjanjian dengan sistem muzara`ah. Padahal secara teoretis praktek muzara`ah menurut Imam Syafi`i tidak diperbolehkan Kemudian dari sisi status sosial ekonomi maysarakat petani penggarap yang berdomisili di Kota Mataram rata-rata tergolong ekonomi lemah. Sementara tuntutan untuk lebih maju sesuai dengan kondisi zaman menjadi bagian penting yang terus mengkonsturksi mereka untuk merubah nasib yang lebih baik sehingga rata-rata status sosial ekonomi mereka semakin meningkat. Artinya, perubahan status soisial mereka dari primitf menjadi lebih elit dapat dipastikan karena adanya tantangan yang mereka alami sehingga motivasi untuk menanggapinya menjadi bagian yang harus mereka laksanakan. Bertitik tolak dari kenyataan inilah terasa sangat penting dilakukan sebuah kajian untuk membongkar motivasi mereka dalam menanggapi tantangan yang dialaminya menjadi awal untuk memperkuat serta memfungsikan teori perubahan sosial yang relevan sebagai pisau bedahnya

Item Type: Book Section
Uncontrolled Keywords (Kata Kunci): bertani; kultur; petani penggarap; sosiologis
Subjects: 16 STUDIES IN HUMAN SOCIETY > 1608 Sociology > 160801 Applied Sociology, Program Evaluation and Social Impact Assessment
16 STUDIES IN HUMAN SOCIETY > 1608 Sociology > 160808 Sociology and Social Studies of Science and Technology
Divisions: Fakultas Syariah > Jurusan Hukum Bisnis islam
Depositing User: Nur aeni S.IPI
Date Deposited: 24 Feb 2020 01:52
Last Modified: 24 Feb 2020 01:52
URI: http://repository.uinmataram.ac.id/id/eprint/605

Actions (login required)

View Item View Item