Jumarim, Jumarim (2011) Maqashid As-Syari'ah: telusuran genealogis dan dinamika di era kontemporer. Istinbath, 10 (1). pp. 1-106. ISSN 1829-6505

[img] Text (Artikel Jurnal)
Istinbat_10,1,2011_Jumarim.pdf - Published Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (13MB)
[img] Text
Peereview Istinbat_Maqasyid Asyriah_Adi Fadli.pdf - Published Version

Download (127kB)
[img] Text
Peereview Istinbat_Maqasyid Asyriah_Fahrurrozi.pdf - Published Version
Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial No Derivatives.

Download (114kB)

Abstract

Hifz al-'aql yang kemudian dimaknai lebih luas menjadi nilai kebebasan (al-hurriyah) adalah salah satu prasyarat utama terwujudnya sebuah peradaban suatu kelompok dalam Islam, kebebasan betpendapat ini dapat disepadankan dengan istilah 'ijtihad', Peradaban Islam, yang pernah mencapai puncak keemasannya beberapa abad silam harus diakui sebagai salah satu praktek kebebasan berpendapat atau 'ijtihad'. Dengan ijtihad, Islam sebagai agama bisa menemukan eksistensinya sebagai rahmatan lil'alamin dan karenanya berkembang dan menyebar dengan pesat ke seluruh dunia. Pasca peralihan pusat peradaban ke dan oleh Eropa/Barat, maka umat Islam secara terus menerus mengalami kemunduran secara signifikan dan dampaknya terasa hingga saat ini. Lagi-lagi kemunduran umat Islam ini sendiri dinilai karena matinya spirit 'ijtihad' atau tertutupnya pintu ijtihad. Hal ini disebabkan oleh melimpahnya hasil ijtihad atau referensi intelektual abad pertengahan yang membelenggu ummat di era setelahnya. Hadirnya, Imam al-Turmuzi, al-Juwainy, al-Gazali, dan al-Syatibi dengan konsep 'maqashid al•syari'ah nya juga belum bisa membuka keranjang pengurung daya berpikir (ijtihad) umat Islam karena dinilai sebagai tawaran teori yang telah menyimpang dari sumber dan qaidah yang telah dibakukan sebelumnya . Maqashid al-syari'ah yang dikembangkan al-Syatibi dan dijadikan sebagai bahan diskursus alternatif di era kontemporer ini, bila dilacak geneologisnya, maka bukanlah hal baru, melainkan sudah menjadi inti teori dan metodologi ijtihad dari masa pewahyuan dan zaman imam mazhab. Namun istilah yang dipergunakannya berbeda-beda, juga porsi penggunaannya disesuaikan dengan tingkat kebutuhan dialogisnya dengan realitas. Upaya menelusuri geneologi maqashid al-syari'ah menjadi urgen dilakukan guna menemukan titik sinergis dan bahkan meniadi 'batu asah' bagi ushul fiqh yang telah kehilangan manfaatnya menjadi lebih ampuh dalam menjawab dan merekayasa modernitas sebagai modal membangun kemajuan dan peradaban umat manusia.

Item Type: Article
Uncontrolled Keywords: al-Hurriyah; ijtihad; modernitas
Subjects: 22 PHILOSOPHY AND RELIGIOUS STUDIES > 2204 Religion and Religious Studies > 220403 Islamic Studies
22 PHILOSOPHY AND RELIGIOUS STUDIES > 2204 Religion and Religious Studies > 220403 Islamic Studies > 22040301 Al-Quran, Tafsir and related science
22 PHILOSOPHY AND RELIGIOUS STUDIES > 2204 Religion and Religious Studies > 220403 Islamic Studies > 22040304 Fiqh, Ushul Fiqh, Islamic Jurisprudence, and related science
22 PHILOSOPHY AND RELIGIOUS STUDIES > 2204 Religion and Religious Studies > 220405 Religion and Society
Divisions: Fakultas Syariah > Jurusan Ilmu Falaq
Depositing User: Dr Jumarim M.Hi
Date Deposited: 17 Dec 2021 15:56
Last Modified: 25 Jan 2022 01:23
URI: http://repository.uinmataram.ac.id/id/eprint/732

Actions (login required)

View Item View Item